Truko — Di serambi Masjid At Tuqo’, Selasa 21 April 2026 selepas Isya’, malam datang dengan cara yang pelan sekali. Tidak terburu-buru. Seolah tahu, ada yang sedang dipersiapkan hati manusia: melepaskan dengan doa, bukan sekadar kata.
Serambi masjid malam itu tidak hanya menjadi tempat singgah sebelum masuk ke ruang ibadah. Ia berubah menjadi ruang perpisahan yang paling lembut. Tempat di mana suara diturunkan, langkah diperlambat, dan pandangan menjadi lebih lama dari biasanya.
Pemerintah Desa Truko bersama masyarakat melaksanakan pelepasan calon jamaah haji tahun 2026. Sederhana saja. Tidak ada yang berlebihan. Tapi justru di kesederhanaan itu, rasa menjadi lebih jujur.
Satu per satu nama disebut di serambi itu, pelan, hati-hati, seperti sedang menjaga sesuatu yang rapuh: Bapak H. Akhmad Sulkhan, Bapak Ahmad Khiron, Ibu Siti Saodah, Ibu Amalia Ulfa, dan Ibu Hj. Nur Hidayah.
Lima nama itu berdiri di tengah doa-doa yang tidak diucapkan sekaligus, tapi mengalir perlahan dari banyak hati. Ada keluarga yang menahan air mata dengan senyum yang dipaksa kuat. Ada warga yang hanya bisa diam, karena kadang doa paling dalam memang tidak menemukan kalimatnya.

Di serambi Masjid At Tuqo’, malam itu terasa seperti semua orang sedang belajar hal yang sama: belajar merelakan, tanpa kehilangan harapan.
Pemerintah desa dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas kesempatan yang diberikan kepada para jamaah untuk menunaikan ibadah haji. Disampaikan harapan sederhana, tapi dalam: semoga Allah menjaga perjalanan mereka, memberi kesehatan, kelapangan, dan menerima setiap langkah ibadah yang dilakukan di Tanah Suci.
Tidak ada yang benar-benar bisa menggambarkan haji selain kata “panggilan”. Dan panggilan, malam itu terasa begitu dekat, tapi juga begitu jauh.
Rencana keberangkatan dijadwalkan Minggu, 26 April 2026. Namun di serambi itu, keberangkatan seperti sudah lebih dulu dimulai—bukan dengan koper yang diangkat, tapi dengan doa yang diam-diam sudah berjalan mendahului langkah kaki.
Tausiyah yang disampaikan H. Junaedi malam itu mengalir pelan. Tentang bagaimana haji bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan hati. Tentang bagaimana manusia belajar menjadi kecil di hadapan Allah, dan pulang dengan jiwa yang lebih tenang dari sebelumnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama. Dan seperti biasa, doa tidak pernah benar-benar menutup apa pun. Ia justru membuka jalan baru.
Di serambi Masjid At Tuqo’, malam itu, banyak yang diam-diam mengucapkan selamat jalan tanpa suara. Banyak yang diam-diam berkata dalam hati: “Semoga sampai, semoga pulang, semoga menjadi haji yang mabrur.”
Dan malam tetap tinggal lebih lama sedikit di serambi itu.
Seperti ingin ikut mengantar juga.
NANA
Share :